50 Siswa Kader Lingkungan Sekolah Surabaya Kampanyekan Diet Kantong Plastik

Paguyuban Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup kampanye Diet Kantong Plastik dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional 2017 di Taman Flora Bratang, Minggu (19/2)

Paguyuban Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup kampanye Diet Kantong Plastik dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional 2017 di Taman Flora Bratang, Minggu (19/2)

Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang diperingati setiap 21 Februari dimaknai dengan cara berbeda oleh Tunas Hijau. Bertempat di Taman Flora Bratang, Tunas Hijau melibatkan Paguyuban Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup dan kader lingkungan hidup dari beberapa sekolah Surabaya, Minggu (19/2). 

50 orang anak-anak mengampanyekan upaya pengurangan sampah plastik terutama kantong plastik bertajuk “Diet Kantong Plastik”. Tujuannya, mengajak masyarakat kota Surabaya mengurangi penggunaan kantong plastik atau kresek yang umumnya digunakan sekali pakai.

“Kampanye ini untuk mengajak masyarakat mengurangi penggunaan kantong plastik yang biasanya digunakan untuk berbelanja, meskipun kantong plastik sudah tidak berbayar lagi di retail modern. Caranya dengan membiasakan tas belanja keren, awet, dan ramah lingkungan,” kata Aktivis Senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni.

Monster Kresek yang dihadirkan saat kampanye untuk mengedukasi masyarakat mengenai bahaya kantong plastik yang umumnya sekali pakai.

Monster Kresek yang dihadirkan saat kampanye untuk mengedukasi masyarakat mengenai bahaya kantong plastik yang umumnya sekali pakai.

Kader lingkungan hidup sekolah Surabaya yang ikut serta adalah SDN Kaliasin I, SDN Sidotopo VIII, SD SAIM, SDN Rangkah VI, SDK Santa Theresia 2, SDN Ujung IX, SMPN 1, SMPN 4, SMAN 11, SMKN 1, SMKN 10 dan SMAN 17. Pada kampanye itu mereka membuat “Monster Kresek” dan beragam poster ajakan kurangi plastik.

Dalam aksi kampanye kali ini, mereka juga membagikan 500 tas belanja keren, awet dan ramah lingkungan non plastik kepada pengunjung Taman Flora Bratang. Tidak sekedar dibagikan percuma, sosialisasi tentang bahaya penggunaan kresek disampaikan oleh para kader lingkungan hidup ini kepada para pengunjung.

Direktur Kampanye Diet Kantong Plastik Pasha Rizky Dwantara, yang juga Runner Up I Pangeran Lingkungan Hidup 2016, menuturkan bahwa Monster Kresek ini merupakan perwujudan banyaknya sampah kantong plastik.

“Monster Kresek ini merupakan maskot agar pengunjung menanyakan tentangnya, dengan begitu saya bisa menjelaskan tentang bahaya penggunaan kantong plastik sekali pakai bagi lingkungan dan kesehatan,” ujar Pasha yang juga siswa SD Sekolah Alam Insan Mulia yang berhasil mengajak 4 perusahaan untuk bergotong royong menyediakan 500 tas belanja ini.

Dengan meneriakkan yel-yel lingkungan sebagai pesan yang disampaikan kepada pengunjung, sebagian finalis Pangeran dan Puteri Lingkungan lainnya mengajak pengunjung untuk menukarkan kantong plastik yang digunakan saat itu dengan kantong belanja ramah lingkungan milik mereka.

“Diberitahukan kepada pengunjung, ayo tukarkan sampah kantong kresek anda dengan kantong belanja ramah lingkungan milik kami bisa juga dengan cara mengumpulkan botol plastik,” imbuhnya.

Sementara itu, di sela-sela kampanye, mereka secara aktif menyebar untuk mencari keluarga yang memakai kantong kresek atau pengunjung lainnya juga. Berbekal poster dan tas belanja kain, satu persatu keluarga dan kelompok menjadi sasaran target sosialisasi mereka.

Pengalaman berbeda disampaikan oleh Puteri Lingkungan Hidup 2016 Ailsa Araminta Aurelia Putri Maqsudi, yang mengakui bahwa dengan adanya embel-embel ‘gratis’ lebih mudah daripada yang tanpa diberitahu seperti itu.

“Waktu saya sosialisasikan tentang bahaya kantong plastik lalu berniat untuk menukarnya dengan tas kain ini, awalnya bapaknya masih enggan begitu, Kak. Tetapi, setelah saya bilang kalau ini dibagikan gratis langsung mau,” ucap Ara, panggilan akrab Puteri Lingkungan Hidup 2016 sambil tertawa. Dari kampanye peduli sampah ini, mereka berhasil membagikan 245 tas belanja kain. “Kami akan buat agenda rutin seperti ini memberikan edukasi ke masyarakat lewat anak-anak sambil berbagi tas belanja,” ucap Anggriyan, aktivis senior Tunas Hijau.

Respon positif  diberikan pengunjung setelah melihat dan mendengarkan penjelasan anak-anak mengenai bahaya sampah plastik. Salah satunya seperti yang disampaikan Indah Rachmawati. Ibu rumah tangga asal Rungkut ini baru mengetahui dampak dari penggunaan sampah plastik yang tidak bisa hancur selama 100 tahun. “Terima kasih kepada anak-anak atas tas kainnya. Dengan ini setiap hari saya akan membawa tas kain ini saat belanja,” ujar Indah kepada Tunas Hijau. (ryn)