Realisasi Keluarga Hijau Calon Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2016

Penganugerahan Pangeran dan Puteri Lingkungan hidup 2016 dan umumnya program lingkungan hidup yang diselenggarakan Tunas Hijau bukan saja soal teori atau pengetahuan yang cukup diketahui. Penganugerahan Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2016 adalah aksi nyata dan keteladanan yang dilakukan untuk bisa ditiru banyak orang yang lainnya. 

Gardana Wong Alit, siswa SDN Kaliasin I,   dibantu keluarganya saat menjelaskan proyek lingkungan hidup kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Ikhsan di Taman Flora Bratang, Sabtu (23/4).

Gardana Wong Alit, siswa SDN Kaliasin I, dibantu keluarganya saat menjelaskan proyek lingkungan hidup kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Ikhsan pada Jambore Air 2016 di Taman Flora Bratang, Sabtu (23/4).

Menyikapi hal itu, pada penganugerahan yang mengharuskan pesertanya membuat proyek lingkungan hidup dan perilaku ramah lingkungan hidup, dimunculkan Realisasi Keluarga Hijau sebagai salah satu tahapan seleksi IV. Realisasi Keluarga Hijau ini bisa dilakukan mulai Rabu (27/4).

Realisasi Keluarga Hijau ini tidak hanya sebagai bagian dari tahapan seleksi IV, melainkan juga akan berdiri sendiri sebagai satu tahapan seleksi mandiri seperti halnya karantina atau pelatihan 2 hari/1 malam yang akan dilaksanakan, atau pameran proyek lingkungan hidup yang telah dilaksanakan akhir pekan lalu.

Istimewanya lagi, bagi keluarga calon Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2016 yang berhasil merealisasikan 10 poin berikut, maka akan ada penghargaan khusus dari Walikota Surabaya Tri Rismaharini bagi keluarga tersebut.

10 poin Realisasi Keluarga Hijau yang dimaksud adalah:

  1. Hemat listrik, diantaranya dengan mengatur penggunaan AC atau penyejuk ruangan pada suhu minimal 23 derajat Celcius, tidur dalam keadaan gelap atau minim pencahayaan, dll.
  2. Hemat air, diantaranya menampung air cucian beras untuk disiramkan pada tanaman;
  3. Upaya pengurangan sampah kemasan produk, diantaranya dengan membeli produk dalam kemasan besar daripada sachet/kecil, dll;
  4. Upaya pengurangan sampah plastik tas belanja, diantaranya dengan menghindari kresek saat belanja dan membawa tas belanja yang bisa digunakan berulang kali;
  5. Pemilahan sampah non organik berdasarkan jenisnya ditindaklanjuti dengan pengolahan secara tuntas. Pengolahan secara tuntas berarti bisa dengan menjualnya/ menyumbangkannya kepada pemulung atau pengepul atau bank sampah terdekat. Diantara jenis sampah non organik adalah sampah kaleng, plastik dan kertas;
  6. Pengomposan sampah organik. Bisa dilakukan dengan menggunakan keranjang takakura, tong komposter aerob, atau lubang resapan biopori;
  7. Konservasi Air atau Bank Air dengan lubang resapan biopori, sumur resapan dan/atau tandon khusus penampungan air hujan;
  8. Pemanfaatan lahan kosong dan/atau sempit dengan pohon pelindung dan/atau sedikitnya tanaman dalam pot;
  9. Kampanye lingkungan hidup keluarga di pusat perbelanjaan;
  10. Promosi aktivitas lingkungan hidup keluarga melalui mesia sosial, sedikitnya sekali dalam sepekan.

Realisasi Keluarga Hijau itu dibuktikan dengan foto dokumentasi dan diunggah pada halaman facebook: https://www.facebook.com/Tunas.Hijau.Indonesia/ (ron)